UMUM

Clue Misterius, Anamnesis Pemfis jadi Serius

dr. Rahyang Narasingha11 September 20265 Menit Membaca

OSCE UKNPDPD (Objective Structured Clinical Examination) merupakan salah satu tahapan ujian yang menguji kemampuan klinis secara langsung. Berbeda dengan ujian tulis yang berfokus pada pengetahuan, OSCE menilai bagaimana kamu menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi klinis. Karena itu, sebelum membahas tips belajar, ada satu hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu: kenali medan perangnya.

Bagikan:

Get to Know OSCE UKNPDPD: Clue Misterius, Anamnesis Pemfis jadi Serius


OSCE UKNPDPD (Objective Structured Clinical Examination) merupakan salah satu tahapan ujian yang menguji kemampuan klinis secara langsung. Berbeda dengan ujian tulis yang berfokus pada pengetahuan, OSCE menilai bagaimana kamu menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi klinis. Karena itu, sebelum membahas tips belajar, ada satu hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu: kenali medan perangnya.

Dalam satu sesi OSCE, terdapat total 14 station, yang terdiri dari 12 station soal dan 2 station istirahat. Pada setiap station soal, peserta akan mendapatkan waktu 1 menit untuk membaca instruksi di luar ruangan, kemudian 14 menit untuk mengerjakan soal di dalam ruangan. Perlu diingat, instruksi pada setiap station dapat berbeda sehingga kamu harus benar-benar memahami perintah sebelum mulai mengerjakan.

Sebanyak 12 sistem dapat diujikan dalam OSCE, yaitu sistem Indra (THT dan Mata), Kulit-Kelamin, Obstetri-Ginekologi, Endokrin, Muskuloskeletal, Neurologi, Psikiatri, Gastroenterohepatologi, Urologi-Nefrologi, Respirologi, Kardiologi, serta Hematologi-Infeksi. Pada beberapa station, skenario soal yang diberikan sangat terbatas, mungkin di depan ruangan kamu hanya akan mendapat soal semacam ini : 



Menggali cue and clue dalam waktu yang terbatas selama OSCE tentunya tidak mudah. Di sinilah anamnesis menjadi sangat penting. Anamnesis bukan sekadar tahap pembuka sebelum pemeriksaan fisik, tetapi merupakan pintu gerbang untuk mengarahkan kamu menuju langkah-langkah berikutnya. 

Awali interaksi dengan menyapa pasien dan bila memungkinkan, berjabat tangan. Persilakan pasien untuk duduk dan tunjukkan sikap yang terbuka serta ramah selama berkomunikasi. Perhatikan komunikasi nonverbal, seperti tersenyum, sedikit mencondongkan tubuh ke arah pasien, tidak melipat tangan atau memasukkan tangan ke dalam saku, mempertahankan kontak mata, serta mendengarkan pasien tanpa memotong pembicaraannya. 

Di samping itu, untuk mempermudah dan menjaga agar anamnesis tetap sistematis, kamu bisa menggunakan satu template dasar yang sama pada berbagai kasus. Dalam praktiknya, saya menggunakan alur:

  1. Perkenalkan diri ; contoh : “Selamat pagi, Pak. X, perkenalkan saya dr. Bram yang berjaga di poli pada pagi hari ini.”

  2. Identitas pasien ; Setidaknya, identitas dasar yang perlu diketahui meliputi nama, usia, dan pekerjaan.

  3. Informed consent, termasuk menjelaskan kerahasiaan data pasien. Contoh : “Selanjutnya, saya akan menanyakan beberapa hal mengenai identitas, keluhan, dan kondisi kesehatan Bapak. Bapak tidak perlu khawatir, semua informasi yang Bapak sampaikan akan dijaga kerahasiaannya, sehingga Bapak dapat bercerita dengan leluasa”

  4. Keluhan utama, yakni keluhan yang membawa pasien datang ke dokter. 

  5. Riwayat penyakit sekarang menggunakan mnemonic OLDCAR; 

O (Onset) = Onset dan Frekuensi keluhan 

L (Location) = Lokasi Keluhan 

D (Duration) = Durasi dan kronologi keluhan muncul 

C (Character) = Karakteristik keluhan
A/R (Aggravating/Relieving factors) : faktor yang memperberat dan meredakan keluhan.

(4) Keluhan penyerta (atau pertanyaan yang relevan untuk menentukan grading dan keputusan terapi pada penyakit yang terkait). Tipsnya awali dulu dengan pertanyaan terbuka, seperti “apakah ada keluhan lain yang dirasakan?”. jika pasien kamu sifatnya tertutup dan tidak memberikan banyak clue, maka kamu harus mengajukan pertanyaan tertutup yang relevan sesuai dengan differential diagnosis yang kamu curigai. 

(5) Riwayat penyakit dahulu dan pengobatan sebelumnya; 

(6) Riwayat alergi; 

(7) Riwayat penyakit keluarga; dan 

(8) Riwayat sosial, meliputi faktor risiko penyakit tersebut. 

Kemampuan anamnesis tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi perlu dilatih berulang kali agar Anda terbiasa menggali informasi secara sistematis dan terarah. Karena itu, persiapkan diri dengan banyak berlatih berbagai skenario kasus. Berikan kesempatan pasien bercerita tanpa dipotong dan tunjukkan active listening melalui kontak mata, respons yang sesuai, serta bahasa tubuh yang menunjukkan perhatian. Perhatikan pula komunikasi verbal dan nonverbal pasien, seperti pilihan kata, intonasi, ekspresi, dan gerakan tubuh.

Setelah itu, lakukan summarizing untuk memastikan informasi yang Anda pahami sesuai dengan yang disampaikan pasien. Tetap lakukan anamnesis secara sistematis, tetapi jangan sampai terlihat seperti sekadar menghafalkan checklist. Ingat, tujuan anamnesis bukan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi, melainkan mendapatkan informasi yang relevan untuk mengarahkan diagnosis.

Langkah berikutnya, persilahkan pasien untuk duduk/berbaring di bed pemeriksaan selagi kamu melakukan 6 langkah WHO untuk mencuci tangan. jangan lupa meminta izin sebelum dilakukan pemeriksaan yaa..!

Berikutnya kita akan membicarakan pemeriksaan fisik head to toe untuk OSCE soal kasus. Pemeriksaan ini seringnya akan membuat kita jadi wasting time jika tidak melakukan dengan cepat dan terarah. tapi, untuk semua kasus kecuali stase THT-Mata dan Neuro-psikiatri, saranku tetap lakukan pemeriksaan head to toe secara general. apa saja yang perlu dilakukan di semua stase? 

  1. Menilai keadaan umum 

  2. Tanda-Tanda Vital 

  3. Kepala/Leher : Konjungtiva anemis, sklera ikterik. 

  4. Thoraks : Inspeksi-Palpasi-Perkusi-Auskultasi Jantung-Paru Simultan 

  5. Abdomen : Inspeksi-Auskultasi-Perkusi-Palpasi Abdomen 

  6. Ekstremitas : Akral Hangat, CRT, edem, sianosis

  7. Status Lokalis sesuai kasus 

Bila kamu mendapatkan stase endokrin misalnya yang menguji kasus thyroid dan Pemfis status lokalis leher, maka tetap lakukan head to toe tapi secara singkat, setelah itu baru focus melakukan status lokalis dengan baik. Begitu pula jika misalnya mendapatkan kasus ginekologi, lakukan head to toe tapi secara singkat, setelah itu baru fokus melakukan status lokalis dengan baik. Lalu bagaimana jika mendapatkan kasus jantung/paru? nah disinilah seni nya. Bila memang kamu mendapatkan status jantung/paru/abdomen, maka kamu bisa melakukan pemeriksaan thoraks/abdomen selama status general dengan sebaik mungkin dan selengkap mungkin. jadi selama pemeriksaan tersebut memang relevan untuk kasus, lakukan sebaik-baiknya, tapi jika kurang relevan kamu bisa lakukan saja dengan cepat. 

Pasien simulasi merupakan orang sehat yang telah dilatih untuk memperagakan tanda atau keluhan sesuai dengan skenario pemeriksaan. Misalnya, pada pemeriksaan nyeri, saat abdomen RUQ ditekan, pasien simulasi akan memberikan respons berupa mengeluh atau menunjukkan rasa nyeri.

Untuk tanda klinis yang tidak dapat diperagakan secara langsung, seperti ikterus pada sklera, informasi mengenai hasil pemeriksaan akan diberikan oleh penguji kepada peserta. Namun, pada beberapa kasus, pasien simulasi juga dapat memiliki temuan fisik tertentu, misalnya tanda-tanda luka/fraktur, sehingga pemeriksa tetap perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.

Dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang sistematis dan terarah, kamu bisa benar-benar mendapat clue untuk diagnosis dan menghemat waktu untuk melakukan perintah soal berikutnya. Kemampuan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik terarah tidak bisa didapatkan dengan instan, melainkan harus memperbanyak berlatih dan simulasi kasus agar lebih fasih dan lancar.